Featured

Mencoba Merantau

23 November 2017

  • Aku tidak akan pernah bisa melupakan tgl itu, tgl dimana aku memutuskan untuk pergi dari rumah meninggalkan kedua orang tuaku dan bungsu kecil. Sekitar jam 16:00 Sore aku dan kedua orang tuaku bergegas berangkat dari rumah menuju loket bus, kala itu cuaca sedang tidak bersahabat kami kehujanan di jalan dan ban motor ayahku pecah sedang orang loket telah menungguku. Akhirnya aku dan ibuku memutuskan untuk pergi duluan dan meninggalkan ayah di bengkel. Bus telah menungguku saat itu namun ayahku tak kunjung juga datang, cukup lama menunggu kedatangan ayah hingga membuat penumpang lain kesal. Setelah bosan menunggu akhirnya ayah datang juga dengan cepat kenek supir menyambut barang-barangku dan aku sangat terburu-buru saat itu aku langsung pamit dengan kedua orang tua beserta bungsu yang saat itu ikut juga mengantarku. Rasa sedih yang begitu mendalam saat bus perlahan-lahan pergi, aku berusaha kuat kala itu aku tahan air mata yang sudah terbendung sejak dari rumah namun aku tak bisa sekuat itu, akhirnya jatuh juga air mataku bersamaan dengan hujan yang juga datang sangat deras. Hari yang semakin gelap, awan biru telah hilang, aku semakin sedih yang aku pikirkan adalah bagaimana kehidupanku di tanah Rantau.

Bersambung…..

post

Asmara

Aku bagai merindu bintang saat mentari hadir
Butuh pancaran kehangatan mentari kala malam menyelimuti
Luka ini sakit tak berdarah
Pedih pun tak kunjung pergi memilih menetap abadi
Tak dapat ku lukis diatas air jernih
Tak mampu pula bertahan dalam kibaran api
Meski kelak semua hilang
Hati ini tak dapat berubah tetap akan seperti ini.

Asmara

Aku bagai merindu bintang saat mentari hadir
Butuh pancaran kehangatan mentari kala malam menyelimuti
Luka ini sakit tak berdarah
Pedih pun tak kunjung pergi memilih menetap abadi
Tak dapat ku lukis diatas air jernih
Tak mampu pula bertahan dalam kibaran api
Meski kelak semua hilang
Hati ini tak dapat berubah tetap akan seperti ini.

Asmara

Kebenaran berdasarkan kenyataan
Dari tatapan kekasih hati
Selepas semua problematika yang telah dilewati
Tajamnya duri kini tak lagi terasa

Serpihan bebatuan kini rata sebab pijakan bersama
Melangkah dengan tangan yang saling menggenggam
Sangat hangat dan erat bagai sepasang kunci dan gembok

Tatap aku
Bersama kita melangkah menuju masa depan
Aku, kamu, dan keluarga kita menjadi satu.

Susahnya Mendapatkan Teman Belajar

Hari itu guru Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan memberikan tugas Yang harus dikerjakan secara kelompok. Aku saat itu langsung saja memutarkan kursiku kebelangkang untuk membentuk kelompok, kelompokku terdiri dari 4 orang anak. Kami segera memulai diskusi mengenai topik Yang diberikan oleh pak guru sementara anak-anak Yang lain juga sudah membentuk kelompoknya masing-masing namun ada Satu orang anak perempuan yang saat itu masih berkeliaran di ruangan kelas. Dia menghampiri meja masing-masing kelompok, kemudian dia berlanjut menghampiri meja kelompok Kami. Dia berkata kepadaku “Aku Belum mendapatkan kelompok, apakah Aku bisa menjadi bagian dari kelompok kalian?” Ujarnya lirih dengan wajah lesu. Aku Dan teman Satu kelompokku mempersilahkan dia untuk bergabung menjadi kelompok Kami. Sambil membagi tugas masing-masing Aku bertanya kepadanya bukankah seharusnya kamu di kelompok 1 Karena tempat dudukmu berada di depan? tanyaku. Lalu dia menjawab Iya benar, namun tidak satupun dari mereka Yang ingin menerimaku hanya kelompok kalian yang bersedia menerimaku, aku sudah tawarkan diriku aku Akan mengerjakan apa saja Yang mereka perintah seperti mencatat ataupun lainnya. Ujarnya padaku. Setelah selesai mengerjakan tugas, akupun menghampiri ketua kelompok yang duduk dibagian depan untuk menanyakan kenapa mereka bisa berbuat seperti itu, sang ketua pun berkata dia bilang dia bisa mencatat,kalau mencatat akupun bisa tidak perlu Ada dia, kemudian anggota dari kelompok lainpun ikut berkomentar kalau hanya mencatat bisanya tanpa kasih ide tidak Akan ada Yang menerima, apalagi member kelompoknya pinter-pinter. Mendengar ucapan mereka aku merasa iba terhadap temanku yang berwajah lesu itu. Apakah mereka yang pintar hanya ingin berteman dengan yang pintar saja. Bukankah ini kelompok belajar tidak seharusnya mereka memilih orang-orang yang pintar saja. Cara mereka memperlakukan orang lain sungguh tidak pantas mengingat mereka adalah golongan orang-orang pintar di Sekolah. Sejak saat itu dia yang berinisial RW menjadi kelompok belajarku Di Mata pelajaran apapun.

Lalu bagaimana keseharian RW selama Di sekolah? Cerita selanjutnya akan segera dituliskan.